17
Jul
11

social strata on train

aktifitas manusia yang makin tinggi menyebabkan jam biologis yang telah di-set 24 jam tidak lagi cukup. Pergantian matahari dan bulan bukan lagi jadi faktor penentu batasan beraktifitas diluar ruangan. Jam biologis telah lama ditinggalkan sebagai wujud kompensasi hidup. Stasiun kereta, sebagai salah satu spot awal perjalananku. Tiba di stasiun Bogor 08.00 wib, adalah waktu yang fleksibel untuk memulai perjalanan panjang kurang lebih satu jam menuju Pasar Minggu. Karena berangkat agak siang (jam 08 pagi adalah waktu yang sudah layak disebut siang bagi pengguna kereta), saya memilih “aman” dengan naik kereta ekonomi AC. 19 menit merupakan waktu yang cukup untuk mengamati “parade dinamika sosial”.

Ada pola yang terjadi berulang ulang dan menjadi sajian klasik di stasiun, produsen, konsumen (primer-sekunder-tersier) lengkap dengan kelompok pengurai selalu hadir dan selalu bekerja dengan tepat. Selanjutnya kelompok ini kusebut waste chain. Pekerjaan pun dimulai, Produsen merupakan kelompok-kelompok manusia dengan berbagai pekerjaan. Loper koran, pedagang asongan, penjual makanan dan pedagang lainnya. mereka adalah kelompok yang memulai terjadinya waste chain ini. Konsumen tingkat I adalah kelompok selanjutnya, berpenampilan menarik; rapih, wangi, bersih dan berwajah serius yang entah karena tekanan kerja, tekanan hidup atau sengaja membuat wajah mereka seperti itu supaya makin menegaskan citra mereka adalah kelompok serius yang sangat menguangkan waktu. Ditangan mereka tergenggam koran dan dengan berjalan cepat, mereka memasuki kereta ekpress pakuan kemudian menduduki tempat duduk empuk beludru berwarna oranye. Mereka adalah kelompok prioritas, selalu didahulukan berangkat bahkan terkadang kereta ekonomi dan ekonomi ac harus mengalah dalam perjalanan menuju jakarta. Konsumen tingkat II adalah komunitas “tanggung”. Berbagai profesi mengisi kelompok ini; karyawan swasta, guru, pedagang dan mahasiswa berdesakan mengisi kereta ekonomi ac dengan kipas angin untuk menguatkan efek agak dingin ac yang terpasang. Konsumen terkahir adalah komunitas yang saya sebut sebagai komunitas efektif. kebanyakan terdiri dari pedagang dengan bermacam jualan yang rencananya akan dijual di jakarta. Buah jambu dalm keranjang-keranjang besar, sayur, ikan lele dalam karung bahkan lemari pakaian ataupun tangga adalah barang dagangan yang berkompetisi dengan manusia untuk ruang yang terbatas. Saya sebut efektif, karena segalanya dibuat seefektif mungkin; terkadang beberapa penumpang efektif membeli tiket di kereta (ada juga beli tiket setelah sampai ke stasiun tujuan) tanpa perlu ngantri, membeli jajanan langsung di dalam kereta. Dengan organisasi waktu yang “cakep”, pedagang tahu kapan harus meninggalkan gerbong. Kelompok pengurai menambah efektifnya peringkat sosial yang ada di stasiun bogor.

25
Apr
10

Tumpul

Pejaten Timur di malam yang gerah

Ditemani Avolution mentol, Black Coffee,, akhirnya kuterima dengan sadar bahwa banyak hal yang lama kuabaikan…

aku tumpul…

Segenap Idealisme yang menjadikanku perawan, suci,, telah ku-obral.

Saat ini, mulai kubenarkan diriku untuk menerima kenyamanan manusiawi yang higienis,, mulai kutiggalkan alamiah yang hijau, teduh penuh harapan. Selain itu, kini tak tah dimana rimbanya tulisan “I am Not Gonna Sex At My First Date”.

Perhatianku melemah dan ingatanku berwarna kelabu.

Hanya untukku.

25
Des
09

Cheap by 1000

Seperti biasa, saya pergi dan pulang kerja menggunakan kereta api ekonomi-ac. malam itu, dalam perjalanan pulang, sejak jam 18.50 wib saya sudah ada di stasiun pasar minggu untuk  menunggu kereta jam 19.00 wib lewat. tetapi hingga jam 20.30 keretanya belum juga nongol, hanya kereta ekonomi biasa yang suasananya “nggak banged” telah dua kali menawarkan diri untuk saya jejali. i said “gak deh”.

Nyaris putus asa menunggu 2 jam di stasiun akhirnya saya menjual gengsi. Naik kereta ekonomi dengan terlebih dahulu mengamankan semua barang-barangku yang kemunkinan punya harga.  Persis seperti dugaanku, suasananya yang “nggak banged” sangat sempurna. desakan dari segala penjuru sama kuatnya dengan aroma tubuh penumpang lain termasuk saya, bahkan untuk mendapatkan posisi berdiri agar tidak goyah oleh kereta yang lagi jalan pun sulit. Akhirnya saya menyerah dengan keadaan, posisiku yang dekat pintu keluar ternyata posisi yang tidak menguntungkan karena menjadi sasaran desakan dari dalam bagi penumpang yang mau turun dan disaat yang bersamaan juga menjadi sasaran empuk didorong penumpang yang berusaha masuk dan menjejali kereta.

Kesempurnaan ternyata tidak hanya sampai disitu, digerbong yang sempit itu juga dimeriahkan kehadiran tape-panggul,  mantap dahhh :-( …. dan pelengkap suasana malam itu adalah lampu di gerbong belakang (tempat saya terdampar) menyesuaikan irama musik mati-menyala-mati-mati. cekaman pelengkap !!!.

i`ve got nothing to do !!! kulepas earphone ketika lagu fiona apple – accross the universe lagi putar, ternyata suasananya sangat meriah karena kehadiran tape-panggul …. semua penumpang tersenyum, ikut bersenandung dan yang paling penting adalah bergembira. saat itu kondisinya sudah tidak terlalu sesak, banyak orang memilih duduk beralaskan koran dan mulai gabung dengan band dan menyumbang suara. aneh… suasana jadi tidak nyaman tapi kok banyak yang menikmati, dari mana mereka bisa menikmati musik yang soundnya sudah pecah dan suara trebelnya mencekik. tapi kalau itu semua tidak bisa dinikmati, apa mereka itu berbohong dan pura-pura menikmati suasananya !!!, atau saya sendiri merupakan pencilan.

Makin pasrah dengan keadaan dan mencoba larut dengan kebahagiaan. Bukannya menjauh, justru posisiku makin kupermantap didekat sumber bising… penyanyi utamanya adalah laki-laki berotot yang bersuara payah tapi gigih, perempuan stengah baya bertopi dengan make-up yang membuat wajahnya seperti bukan bagian dari tubuhnya,dan laki-laki hitam yang hobi tersenyum. tetapi “gong” dalam pertunjukan kala itu adalah perempuan tua memakai jilbab dengan gigi hilang satu di bagian depan, kelatahan yang dimiliki menjadi hiburan tersendiri yang segar, renyah dan “mengubah” lagu menjadi versinya sendiri.

Ternyta sudah 30 menit saya diatas kereta, saya tidak menduga waktu begitu cepat, 10 menit pertama saya lewati dengan sangat berat (bau, terhimpit, bising dan tidak aman) tetapi keadaan begitu cepatnya berubah, bahkan hanya dibutuhkan 20 menit untuk melupakannya juga untuk 2 hari beban hidup yang terasa berat. Kebahagiaan yang mereka rasakan juga mereka bagi untuk saya yang selama dua hari ini adalah merupakan sesuatu  yang paling saya cari.

Saya sudah larut, saya sudah tidak ragu lagi untuk senyum, ketawa bahkan memberi reaksi ketika penyanyi menyanyikan lagu dangdut “malam terakhir”. entahlah, ini terlalu berlebihan atau memang saya sangat nyaman pada saat itu, seperti berada di rumah sendiri dan berkumpul dengan keluarga,, i feel warm, comfort.  Bahkan ketika telah mendapatkan tempat duduk, saya merelakannya karena tidak mau kesenangan yang saya rasakan hlang,  hingga tidak terasa kantong plastik bekas bungkus permen mulai diedarkan, the partys end :-( , kurogoh kantong,,,,,  Rp 1000 kumasukkan ke dalam kantong.

Ternyata tidak ada kesenangan yang panjang, selebihnya adalah kenangan yang indah untuk disimpan. hanya 40 menit suasanya meriah itu berlangsung, meni berikutnya dihiasi dengan acara perpisahan. Kebanyakan personil band dadakan bukan anggota band sesungguhnya melainkan dadakan. mereka sama seperti saya, penumpang, pekerja di kota jakarta dengan beban kerja masing-masing dan mereka sangat tahu bagaimana melepaskan penat .  Sesi pamit-pamitan pun berlangsung cukup menarik, keakraban pelanggan gerbong  belakang tidak seseram gerbongnya, mereka salaman bukan hanya kepada teman disamping mereka tetapi kepada sebagaian besar penumpang (yang mungkin merupakan komunitasnya) kecuali saya (karena pencilan). Pria muda, tua, perempuan muda maupun yang sudah nenek saling salam dan berterima kasih,  dan akhirnya semua itu berakhir di Stasiun Bojong gede. Keheningan pun dimulai

Setelah semuanya benar-benar hening kecuali suara gesekan gerbong yang menyaingi suara musik tadi saya kembali berfikir.  Apa yang terjadi barusan bukanlah sebuah kebetulan, hampir dua jam  menunggu di stasiun pasar minggu dan akhirnya memutuskan menaiki kereta yang “salah” bukanlah sebuah kebetulan. Saya membeli sebuah kebahagian hanya dengan Rp 1000. yang dalam dua hari merupakan hal yang paling saya ingin dapatkan, dalam doa-pun.

banyak buku pelajaran hidup yang saya beli malam itu, dan itu hanya dijual seharga Rp 1000. buku selalu bisa tersenyum dalam segala keadaan, buku tidak pelit dengan kebahagiaan, dan buku berteman adalah jualan terlaris ditambah satu buku gratis kebal hidung  hehehe…..   Saya tersenyum saat itu, kini dan untuk nanti. bukunya saya sudah baca, kini saatnya implementasi dalam permainanku sendiri, permainan hidup…

Stasiun Pasar minggu – Stasiun Bogor
23 des 2009

21
Des
09

my Expression

This is my home range, my patch. All I have is authority but I want to share it

21
Des
09

Breaking dawn

meminjam petikan populer dari mba stephenie meyer,,,
saya mulai sesuatu yang baru di penghabisan tahun ini.
semoga ini bisa menjadi sahabatku hingga lama…

21
Des
09

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!




My Albmums

More Photos

Arsip


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.