aktifitas manusia yang makin tinggi menyebabkan jam biologis yang telah di-set 24 jam tidak lagi cukup. Pergantian matahari dan bulan bukan lagi jadi faktor penentu batasan beraktifitas diluar ruangan. Jam biologis telah lama ditinggalkan sebagai wujud kompensasi hidup. Stasiun kereta, sebagai salah satu spot awal perjalananku. Tiba di stasiun Bogor 08.00 wib, adalah waktu yang fleksibel untuk memulai perjalanan panjang kurang lebih satu jam menuju Pasar Minggu. Karena berangkat agak siang (jam 08 pagi adalah waktu yang sudah layak disebut siang bagi pengguna kereta), saya memilih “aman” dengan naik kereta ekonomi AC. 19 menit merupakan waktu yang cukup untuk mengamati “parade dinamika sosial”.
Ada pola yang terjadi berulang ulang dan menjadi sajian klasik di stasiun, produsen, konsumen (primer-sekunder-tersier) lengkap dengan kelompok pengurai selalu hadir dan selalu bekerja dengan tepat. Selanjutnya kelompok ini kusebut waste chain. Pekerjaan pun dimulai, Produsen merupakan kelompok-kelompok manusia dengan berbagai pekerjaan. Loper koran, pedagang asongan, penjual makanan dan pedagang lainnya. mereka adalah kelompok yang memulai terjadinya waste chain ini. Konsumen tingkat I adalah kelompok selanjutnya, berpenampilan menarik; rapih, wangi, bersih dan berwajah serius yang entah karena tekanan kerja, tekanan hidup atau sengaja membuat wajah mereka seperti itu supaya makin menegaskan citra mereka adalah kelompok serius yang sangat menguangkan waktu. Ditangan mereka tergenggam koran dan dengan berjalan cepat, mereka memasuki kereta ekpress pakuan kemudian menduduki tempat duduk empuk beludru berwarna oranye. Mereka adalah kelompok prioritas, selalu didahulukan berangkat bahkan terkadang kereta ekonomi dan ekonomi ac harus mengalah dalam perjalanan menuju jakarta. Konsumen tingkat II adalah komunitas “tanggung”. Berbagai profesi mengisi kelompok ini; karyawan swasta, guru, pedagang dan mahasiswa berdesakan mengisi kereta ekonomi ac dengan kipas angin untuk menguatkan efek agak dingin ac yang terpasang. Konsumen terkahir adalah komunitas yang saya sebut sebagai komunitas efektif. kebanyakan terdiri dari pedagang dengan bermacam jualan yang rencananya akan dijual di jakarta. Buah jambu dalm keranjang-keranjang besar, sayur, ikan lele dalam karung bahkan lemari pakaian ataupun tangga adalah barang dagangan yang berkompetisi dengan manusia untuk ruang yang terbatas. Saya sebut efektif, karena segalanya dibuat seefektif mungkin; terkadang beberapa penumpang efektif membeli tiket di kereta (ada juga beli tiket setelah sampai ke stasiun tujuan) tanpa perlu ngantri, membeli jajanan langsung di dalam kereta. Dengan organisasi waktu yang “cakep”, pedagang tahu kapan harus meninggalkan gerbong. Kelompok pengurai menambah efektifnya peringkat sosial yang ada di stasiun bogor.